This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Kisah Tauladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tauladan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

Kisah Pedagang Yang Jujur

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid,menyuruhsaudaranya menjaga kedainya kerana ia akan keluar solat. Ketika itu  datanglah seorang badwi yang hendak
membeli perhiasan di kedai itu. Maka terjadilah jual beli di antara badwi itu dan penjaga kedai yang diamanahkan tuannya tadi. Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli  harganya empat
ratus dirham. Saudara kepada Yunus menunjukkan suatu barang yang sebetulnya harga dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli oleh badwi tadi tanpa diminta mengurangkan harganya tadi. Ditengah jalan, dia terserempak dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si badwi yang membawa  barang perhiasan yang dibeli darikedainya tadi. Sememangnya dia mengenali barang tersebut adalah dari
kedainya. Saudagar Yunus bertanya  kepada badwi itu,
 “Berapakah
harga barang ini kamu beli?”
Badwi itu menjawab, “Empat ratus dirham.”
“Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham sahaja. Mari ke kedai
saya supaya saya dapat kembalikan wang selebihnya kepada saudara.”
Kata saudagar Yunus lagi.
“Biarlah, ia tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan
harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang
ini paling murah lima ratus dirham.”
 Tetapi saudagar Yunus itu tidak mahu melepaskan badwi itu pergi. Didesaknya juga agar badwi tersebut balik ke kedainya dan bila tiba dikembalikan wang baki kepada badwi  itu. Setelah badwi itu beredar,
berkatalah saudagar Yunus kepada  saudaranya,
 “Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barangtadi dengan dua kali ganda?” Marah saudagar Yunus lagi.

“Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus
dirham.” Saudaranya coba mempertahankan bahawa dia dipihak yang
benar.

Kata saudagar Yunus lagi, “Ya, tetapi di atas belakang kita terpikul satu
amanah untuk memperlakukan saudara  kita seperti memperlakukan
terhadap diri kita sendiri.”

Semoga  kisah ini dapat dijadikan tauladan bagi kita yang
beriman, amatlah tepat. Kerana ini menunjukkan peribadi seorang pedagand yang jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yanghalal . Jika semuanya berjalan dengan aman dan tenteram kerana tidak ada penipuan dalam perekonomian .

Selasa, 19 Juni 2012

Fatimah az-Zahra Binti Rosulullah


 Hari kelahiran Fathimah Adalah (20 Jumadil Tsani) adalah , buah cinta dua sosok insan yang mulia, Rasulullah Saw dan istrinya, Khadijah as. Atas kehendak Allah, saat melahirkan putrinya ini, Khadijah dibantu oleh beberapa wanita yang didatangkan Allah dari surga. Bayi yang mulia itupun dimandikan dengan air telaga Kautsar lalu dibalut di sehelai kain yang menebar aroma lebih wangi dari kesturi. Atas perintah Allah, Nabi Saw memberinya nama Fathimah. Bagi beliau, kelahiran Fathimah meniupkan angin sejuk surgawi sementara bagi sang ibu putri ini adalah hadiah pemberian Allah yang telah mengusir segala kegundahan dan kesedihan dari hatinya.
Tidak ada Seorang Muslimah yang tidak mengenal dan mencintai Fatimah Az Zahra putri Rasulullah, harus dipertanyakan keimanannya. Bagaimana tidak Az Zahra adalah putri yang sangat dicintai dan mencintai Rasulullah. Oleh karenanya sering keluar dari lisan Rasulullah kata kata yang mengandung arti bahwa apa yang membuat Fatimah marah otomatis membuat beliau marah. Bahkan pada akhir hayatnya Rasulullah sempat membisiki Az Zahra bahwa ia pemimpin wanita ahli surga. Tapi siapa sangka apabila kehidupan sang putri diwarnai oleh kesengsaraan. Kesabaran dan keridhoannya dalam menerima apa yang diberikan Allah lah yang membuat ia pantas menyandang gelar wanita terbaik.

Maka tak ada salahnya, apabila pada kesempatan ini kita mengenang kembali Az Zahra, dengan harapan bisa menjadi motivasi bagi kita untuk memperbaiki diri.

Fatimah rodiyaalllahu anha di besarkan di Rumah Wahyu

 
Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.

Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah Ra.

Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”

Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.

Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.

Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.

Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.

Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.

Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.
 

Fatimatuz Zahra Teladan Muslimah


Ahmad bin Khalil Jum'ah, dalam bukunya berjudul ‘Nisaau Ahlil Bait ‘ menulis demikian:

"Setiap kali keutamaan ditempatkan dalam satu keranjang yang diiringi dengan semerbak aroma yang wangi murni maka nama yang layak diberikan kepadanya adalah Fathimah Zahra. Bagaimana mungkin orang bisa menuliskan semua keutamaan dan kemuliaan Penghulu Wanita Surga dalam satu buku? Ketika ingin membaca keutamaan Fathimah Zahra dan mengambil manfaat dari wewangi segar sirah dan kisah hidupnya, aku menemukan diriku berada di sebuah taman yang menebar kesegaran, indah dan penuh berkah, yang tak mungkin jiwa manusia merasa letih atau hati merasa jenuh karenanya. Di taman itu aku menyaksikan seluruh sifat-sifat mulia dan istana-istana indah yang dibangun oleh Fathimah dengan keutamaan dan keagungannya."
Suatu hari Rasulullah Saw memanggil Fathimah dan bersabda, "Putriku, Ali, anak pamanmu datang meminangmu. Bersediakah engkau menikah dengannya?" Fathimah berdiam tersipu dan nampak keringat membasahi dahinya. Dengan kepala menunduk dia berkata, "Apa pendapat ayah?" Nabi Saw menjawab, "Allah telah mengizinkannya." Fathimah dengan tetap menundukkan kepala menjawab, "Aku ridha dengan apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya." Persiapan sederhana untuk membangun rumah tanggapun disiapkan. Malam pernikahan, Fathimah dibawa menghadap Nabi Saw. Utusan Allah itu membuka tabir penutup kepala putrinya supaya Ali, sang mempelai pria dapat melihat wajah istrinya. Lalu Nabi meletakkan tangan Fathimah di tangan Ali dan bersabda, "Wahai Ali, Fathimah adalah istri yang baik untukmu." Kepada Fathimah, Nabi bersabda, "Putriku, Ali adalah sebaik-baik suami." Demikianlah kisah ringkas dari pernikahan Fathimah dan Ali. Mereka tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana namun penuh keceriaan dan kasih sayang.

Fathimah as adalah poros bagi kehidupan rumah tangga dan keluarga yang baik dan ideal. Siapa saja yang menengok ke rumah ini dapat menjadikannya sebagai teladan untuk membangun sebuah kehidupan yang terhormat dan indah. Hal yang paling menonjol dalam kehidupan Fathimah adalah kemampuannya menghubungkan kehidupan individu, sosial dan keluarga. Beliau pun tampil sebagai sosok pekerja keras, rela berkorban dan pejuang sejati.

Salah satu keistimewaan rumah tangga beliau adalah ketiadaan kebodohan di dalamnya. Rumah yang seperti ini tentu mendatangkan kebahagiaan dan kesejahteraan. Dengan kata lain, seluruh anggota keluarga Fathimah adalah sosok-sosok manusia yang mendapat anugerah kesempurnaan akal. Kesan pertama dan utamanya adalah penghambaan kepada Allah menjadi landasan paling mendasar dalam hubungan di antara mereka. Ibu rumah tangga di keluarga ini adalah sosok wanita yang tenggelam dalam cinta Ilahi kala beribadah dan bermunajat dengan Allah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa putra dari wanita suci ini berkata, "Setiap kali ibuku selesai beribadah beliau nampak dikelilingi oleh cahaya yang terang benderang."
Dalam doanya, Fathimah as)berkata, "Ya Allah, berilah kesempatan kepadaku untuk mengerjakan apa saja yang karenanya Engkau menciptakanku dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal selain itu." (Bihar al-Anwar: 92/ 402)

Dalam kehidupan rumah tangganya dengan Ali bin Abi Thalib Ra, tak ada tanda-tanda yang mengarah kepada persaingan dan egoisme di antara mereka. Keduanya sama-sama memikul tanggung jawab yang besar. Sebagai ayah yang bijak, Rasulullah Saw mengusulkan pembagian tugas di antara putri dan menantunya, dan diputuskan pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab Fathimah dan tugas di luar dipikulkan ke pundak Ali. Fathimah mengungkapkan perasaannya tentang pembagian tugas ini dan mengatakan, "Selain Allah, tak ada yang mengetahui kegembiraanku dengan pembagian tugas ini. Sebab, Rasulullah telah mencegahku melakukan apa yang menjadi pekerjaan orang laki-laki." (Bihar al-Anwar: 43/ 81)

Fathimah tahu benar bahwa perempuan tidak wajib melakukan pekerjaan rumah dan suamipun tidak berhak menyamakan istrinya dengan pembantu. Akan tetapi kehangatan hubungan, pengorbanan, keakraban dan pemahaman yang benar tentang kehidupan akan meringankan beban menanggung kesulitan hidup. Di rumah yang sederhana, Fathimah as telah mendidik anak-anaknya yang oleh sejarah diakui sebagai manusia-manusia terbaik. Beliau bersama dengan suaminya menempatkan diri sebagai teladan bagi anak-anak mereka. Kepada putra sulungnya, Hasan, Fathimah pernah berkata, "Hasan anakku, jadilah engkau seperti ayahmu, belalah kebenaran, sembahlah Allah, Tuhan yang Maha Pengasih dan Pemberi kebaikan, dan janganlah engkau bergaul dengan orang-orang pendendam." Fathimah adalah sosok wanita dengan kefakiran yang menjadi tetangga terdekatnya. Meski secara materi hidup dalam kesusahan, namun hal itu tak pernah mampu menundukkan kebesaran jiwanya sebagai orang yang dermawan. Ibnu Syahr Asyub berkata;

Suatu hari Ali bertanya kepada Fathimah, adakah sesuatu yang bisa dimakan di rumah? Fathimah menjawab, "Demi Allah, sudah dua hari ini aku dan anak-anakku menahan lapar." Alipun terkejut dan berkata, "Mengapa engkau tidak memberitahuku supaya aku bisa menyediakan sesuatu untuk kalian?" Fathimah menjawab, "Aku malu kepada Allah untuk meminta sesuatu darimu yang tidak bisa kau penuhi." Ali segera meninggalkan rumah dan meminjam uang satu dinar dari seseorang untuk membeli keperluan rumah. Di tengah jalan, beliau berpapasan dengan seorang sahabat yang terlihat pucat dan kebingungan. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu gelisah seperti ini?" Dia menjawab, "Aku tak mampu mendengar suara tangis anak-anakku yang kelaparan." Mendengar itu, Ali menyerahkan uang satu dinar tadi kepada orang tersebut.

Kemuliaan dan keagungan Fathimah diakui oleh semua orang. Wanita muslimah sepanjang sejarah mesti menjadikan putri Nabi ini sebagai teladan dalam kehidupan individu, sosial dan keluarganya. Beliau adalah sosok wanita yang bijaksana dalam bersikap, sopan dalam bertutur kata, santun dalam beretika, dan aktif dalam kehidupan bermasyarakat. Beliau selalu peduli dengan kondisi orang-orang di sekitarnya. Setiap kali bertemu dengan para wanita muslimah, beliau memberikan bimbingan dan ajaran kepada mereka seperti yang diterimanya dari ayah beliau. Fathimah juga dikenal sebagai pejuang sejati dalam membela kebenaran.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.

Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.

Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.

Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.
Rasulullah Wafat
 
Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.

Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk.

Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.


Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.

Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.

Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.

Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah ra secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.

Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.

Akhirnya, Sayidah Fatimah ra pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”

Sayidah Fatimah ra diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

 
Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.

Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.

Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah Ra saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.

Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayidah Fatimah ra memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.

Fatimah Az-Zahra senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.

Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.

“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!”


Nama        : Fatimah Binti Rosulullah
Julukan      : Az-Zahra’, Al-Batul, At-Thahirah.
Ayah          : Mahammad.
Ibu            : Khadijah binti Khuwailid.
Kelahiran   : Jumat 20 Jumadil Tsani.
Tempat       : Makkah Al-Mukarramah.
Wafat         : MadinahAl-Munawarah, Tahun 11 H.
Makam       : Tidak diketahui. 


Wallohua'lam

Kisah Wanita Solehah

Alkisah Fatumatuz zahra binti rosulullah bertanya 
siapakah peminpin wanita di surga nanti ? Rasul menjawab
kamu wahai putriku , adalagi kah jawab fatimah putri nabi
Ada yaitu Fatimah binti qays .karena penasaran fatimah
binti Rasulullah menjumpainya dan ingin menanyakan
apa saja yang ibadah fatimah binti Qays . sesampai dipitu rumah 
fatimah binti Qays menyambutnya " Alhmamdulillah saya
senang di datangi seorang puti Rasulullah , namun saya belum
izin suami untuk memasukkan kamu kedalam rumah , Pulanglah dan besok kamu datang kembali kesini setelah saya izin suami  " 
Fatimah Azzahra kembali pulang dan keesokan harinya datang lagi sesuai
dengan saran Fatimah Binti Qays  tapi kali ini membawa seorang wanita untuk menenmani. 
 " Alhamdulillah
saya senang kedatangan tamu Putri Rosullullah , Silahkan masuk , Namun teman mu gak boleh masuk
sebab saya hanya izin kamu untuk teman kamu sendiri belum izin sama suami . suruh teman mu menunggu di luar " sambut fatimah binti Qays

Lalu mereka berbincang-bincang dan Fatimah Menanyakan " Apa yang kamu perbuat terhadap suami mu " .
" Setiap suamiku pulang mencari nafkah saya membawa handuk ditangan kanan dan cambuk ditangan kiri k , saya usap keringatnya dengan
handuk dan saya minta maaf bila ada hal yang tidak berkenan di hati suami ku saat meninggalkan rumah . jika kesalahannya tidak bisa dimaafkan maka aku rela dicambuk sebab saya lebih memilih disiksa di dunia daripada 
di akhirat kelak disiksa dicambuk dan dimasukkan keneraka  ." .
Seperti itulah Akhlak Fatimah Binti Qays terhadap suaminya pantaslah kita jadikan renungan
kalau tidak bisa menjalankannya sekaligus contohlah berlahan . disaat suami dirumah carilah aktivitas positip
dan bukan malahan kontak sama lelaki lain lewat chat sms atau web cam . sebab suami akan lebih damai bila
kamu hanya memperuntukkan diri mu hanya untuknya . Wallohua'lam 

Semoga kisah ini jadi teladan wanita muslimah

Senin, 07 Mei 2012

Kisah Nabi dangan Orang Yahudi

Kisah Nabi dangan Orang Yahudi
Alkisah, di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta setiap hari selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya.”

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah saw mendatanginya dengan membawakan makanan. Tanpa membalas kata sepatah kata pun, Rasulullah menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu, sedangkan pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah Muhammad Nabi ku ; orang yang selalu ia caci maki tiap saat .
Rasulullah saw melakukan Ahlak mulia ini setiap hari hingga beliau wafat. Dan setelah Rasulullah wafat otomatis tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta tadi.
Suatu hari Abubakar berkunjung ke rumah Putrinya Ummul mukmini Aisyah RA , yang merupakan istri Rasulullah. Ia bertanya kepada putrinya itu, “Putri ku,,, ! adakah kebiasaan Rasulullah yang belum aku kerjakan ?”
Aisyah menjawab, “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja.”
“Apakah Itu putri ku?” tanya Abubakar penasaran. beliau kaget juga karena merasa sudah mengetahui bagaimana kebiasaan Rasulullah semasa hidupnya.
“Setiap pagi Rasulullah selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana,” kata Aisyah.
Keesokan harinya Abubakar RA pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu . Abubakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abubakar mulai menyuapinya , Si pengemis marah sambil menghardik , “ Siapakah kamu ?” Abubakar menjawab, “Aku orang yang biasa mengsih mu makan .” jawab Saidina Abu Bakar As siddiq
“ Bukan! Engkau bukan ora ng yang biasa mendatangiku,” bantah si pengemis buta itu dengan tegas “Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut setelah itu ia berikan padaku.”
Abubakar tidak dapat menahan air matanya, beliau menangis  sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu. Aku adalah salah seorang dari sahabat beliau . Orang yang mulia itu sekanr telah tiada . beliau adalah Muhammad Rasulu Allah .”
Seketika itu juga kaget pengemis itu. dan dia pun menangis mendengar penjelasan Saidina Abu bakar, dan kemudian berkata, “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghina beliau , memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun. Ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi ,  begitu mulia dan sempurna  ” Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat di hadapan Saidina Abubakar saat itu juga dan sejak hari itu menjadi Muslim . masaallah kemuliaan Nabi kita sungguh tidak diragukan beliau sayang terhadap umatnya dan yang non-muslim bsekalipun sayangi , bahkan sebagian riwayat mengatkan disaat detik-detik terahir Nabi kita meminta agar rasa sakit sakaratul maut ( pencabutan nyawa ) seluruh umatnya agar ditanggung oleh beliau ( Nabi muhammd ) sendiri  , karena Cinta Nabi kepada Umatnya  , kira-kira siapa lagi orang yang sanggup meminta seperti hal yang tadi terhadap sesamanya ? .Nabi tidak pernah meminta apapuu sebagai tanda terima kasih  terhadap kita melainkan melestarikan agama Allah yang dibawanya dan melaksankan sunnah yang diajarkannya cukup itu saja persambahan sukur kita kapada beliau yakni Nabi Muhammad  .
Lalu pertanyaannya , seberepa besar cinta kita ke Nabi Muhammad ?
apa saja yang kita lakukan terhadap beliau ?  , berapa kali kita bersolawat kepada Nabi dalam jangka sehari ? dan seberapa besar rasa terima kasih kita terhadap Nabi ?
kita jawab dibenak masing-masing ... kitalah yang tau seberapa besar mencintai dan rasa terimaksih kita kepada Nabi kita sendiri  . wallohu'alam semoga kisah Nabi  dan kisah Orang Yahudi ini bermanfaat bagi saya dan teman semua .amin

Selasa, 17 April 2012

Kejujuran dibalas dengan wanita solehah

Dulu ada seorang pemuda pengembara bernama
Ahmad. Ahmad adalah seorang pengembara yang soleh dan taat
kepada Allah. Hutan, gunnung serta padang pasir telah dilalui dalam
pengembaraannya.
Suatu ketika disaat Ahmad sedang menyusuri sebuah sungai. Dia
merasa dahaga yang tiada terhingga , karena hari memang sangat
panas sekali. Ahmad pun kemudian berhenti dipinggir sungai untuk
minum dan mencuci mukanya. “Alhamdulillah….. terimakasih ya Allah,
engkau telah memberikan keselamatan kepadaku dengan air sungai ini”.
Tiba-tiba Ahmad melihat sesuatu mengapung-apung disungai menuju
kearahnya. Tanpa berfikir panjang Ahmad pun kemudian mencebur dan
mengambilnya yang ternyata adalah  sebuah apel. “Ini mungkin rizki
untukku”. Ahmad kemudian memakan apel itu. Tetapi disaat apel itu
termakan hampir habis, Ahmad teringat sesuatu. “Astaghfirullah, Kalau
ada buah apel terjatuh, berarti disekitar sini ada sebuah kebun. Dan bila
ada sebuah kebun, mungkin kebun itu ada yang memiliki. Ya Allah
Ampunilah hambamu yang telah memakan buah ini tanpa meminta izin
kepada pemiliknya. Sebaiknya aku mencari dimana pemilik kebun dari
buah ini.
Ahmad pun kemudian menyusuri sungai itu tanpa merasa letih. Dan
benarlah, ternyata diujung sebuah hulu sungai ada sebuah kebun apel
yang sangat luas. Ahmad kemudian mendatangi kebun itu dan mencari
pemiliknya. Disaat Ahmad sedang  mencari tiba-tiba seorang kakek
mengejutkannya.
“Assalamu’alaikum. Sedang mencari apa gerangan anak muda?”
“Waalaikumussalam… Apakah bapak tau siapa pemilik kebun apel
ini?”
“Sayalah pemiliknya. Kenapa ?
“Jadi, jadi pemilik kebun ini adalah bapak sendiri. Ooo.. Kebetulan sekali.
Saya minta maaf karena saya telah memakan sebuah apel yang saya
duga berasal dari kebun bapak”.
“Dimana engkau menemukannya anak muda?” tanya kakek itu.
“Disebuah sungai disaat saya  sedang minum dan membasuh muka
saya”.
Kakek Pemilik kebun apel itu terdiam dan menatap mata Ahmad dengan
tajam pengembara itu pun kemudian berkata,  “Maafkanlah saya pak, saya siap
menerima hukuman apapun dari bapak. Apapun hukumannya, asalkan
bapak memaafkan saya”.
“O, o oo…. Kalau begitu kau akan menerima hukuman dariku”. Kata
kakek itu seraya terus menatap tajam mata ahmad.
“Silahkan kek, apa hukuman yang akan aku terima ?”
“Kau harus membersihkan kebunku selama satu bulan penuh”
“Baiklah kek, saya akan menjalankan hukuman itu dengan ikhlas karena
Allah” Kata Ahmad sabar.
Demikianlah, berhari-hari Ahmad membersihkan kebun apel itu dengan
rajin dan senang. Dia berharap dapat menghapus kesalahan yang telah
dilakukannya. Hingga tidak terasa satu bulan penuh Ahmad telah
menjalankan hukuman. Ahmadpun kemudian mendatangi pemilik kebun
itu.
“Saya telah menjalankan hukuman untuk membersihkan kebun selama
satu bulan penuh. Dan hari ini adalah hari yang terakhir, Apakah ada
hukuman lain untuk menebus kesalahan saya?” Tanya Ahmad.
“Ada. Aku mempunyai seorang anak gadis bernama Rokayah. Dia buta,
tuli, bisu dan lumpuh. Kau harus  menikahinya.Jawab Kakek pemilik
kebun
Bukan cuman terkejut, Ahmadpun gemetar. Tubuhnya berkeringat.
Karena Ahmad berfikir begitu berat ujian dan hukuman yang dia terima.
pemilik kebun itupun bertanya.
“Kenapa, apakah kau tidak bersedia?” tanya pemilik kebun itu membuat
ahmad berfikir. Tidak lama kemudian ahmad dapat menguasai diri. Dia
yakin apabila pemilik kebun tidak memaafkannya, maka Allahpun tidak
akan memaafkan kesalahannya yang telah memakan apel yang bukan
miliknya.
“Baiklah, saya akan penuhi. Saya ikhlas karena Allah untuk menikahi
anak kakek. Jawab Ahmad
Dengan kesabaran dan keikhlasan Ahmadpun kemudian menikahi gadis
pemilik kebun apel. Disaat usai pernikahan, Ahmad hendak memasuki
kamar pengantin yang didalamnya telah menunggu gadis pemilik kebun
apel
“Assalamu’alaikum”….  Ahmad mengucapkan seraya membuka tirai kamar.
“Wa’alaikummussalam, Silahkan masuk. Aku telah menunggu dari
tadi” Seorang gadis menjawab dari dalam kamar
Ahmad terkejut bukan kepalang mendengar jawaban itu.
“Oh, maafkan saya. Mungkin saya salah memasuki kamar ini.
Sebenarnya saya mencari gadis bernama Rokayah. Dia anak pemilik
kebun apel”. Kata Ahmad bingung.
“Sayalah yang engkau cari”. Jawab gadis itu
“Oh tidak…. Tidak mungkin”.
Ahmadpun berlalu dengan tergesa meninggalkan gadis itu dan menemui
pemilik kebun.
“Sebelumnya maafkan saya yang telah lancang memasuki sebuah
kamar seorang gadis cantik. Tapi… dimanakah sebenarnya kamar
Rokayah istri saya?” Tanya Ahmad
“Kau tidak salah. Yang kau masuki memang kamar rokayah anakku
satu-satunya. Dan yang didalam kamar memang anakku. Dialah
rokayah”.
“Tetapi kenapa saya tidak melihat  dia buta, tuli, bisu dan lumpuh?”
Tanya Ahmad.
“Anakku….. Rokayah memang buta, tuli, bisu dan lumpuh. Tapi yang
aku maksud dia buta, karena dia tidak pernah menggunakan kedua
matanya untuk melihat hal-hal yang buruk. Dia tuli,  karena telinganya
tidak pernah digunakan untuk mendengarkan pembicaraan-
pembicaraan yang buruk. Dia bisu, karena dia tidak pernah
menggunakan mulutnya untuk berbicara kotor. Dan dia lumpuh, karena
dia tidak pernah berjalan ketempat-tempat maksiat. Sekarang segeralah
kau kembali kekamarnya. Temuilah dia yang sekarang menjadi istrimu”.
Betapa bahagianya Ahmad yang ternyata mendapatkan seorang istri
yang bukan cantik jelita, namun seorang gadiis yang beriman dan taat
kepada Allah.
sekian kisah yang pernah saya baca , semoga kisah islam atau cerita islam ini
memotivasi kita khususnya umat isalam dan umumnya semua golongan agar
memiliki sifat jujur , karean jujur adalah awal dari rencana kehidupan .